Kamis, 12 Juni 2008

Menanti Robot Cerdas dari Mahasiswa

Kata 'robot' berasal bahasa Chech (Ceko) yang berarti pekerja. Saat ini, secara sadar atau tidak, robot telah hadir di dalam kehidupan manusia dalam bentuk yang bermacam-macam. Terdapat bentuk desain robot yang sederhana untuk mengerjakan kegiatan yang mudah atau berulang-ulang. Ada pula robot yang dirancang untuk 'berperilaku' sangat kompleks dan sampai batas tertentu dapat mengontrol dirinya sendiri.

Di kalangan umum, pengertian robot selalu dikaitkan dengan 'makhluk hidup' berbentuk orang maupun binatang yang terbuat dari logam dan bertenaga listrik. Sementara itu, dalam arti luas robot berarti alat yang dalam batas-batas tertentu dapat bekerja sendiri (otomatis) sesuai dengan perintah yang sudah diberikan oleh perancangnya. Dengan pengertian ini sangat erat hubungan antara robot dan otomatisasi sehingga dapat dipahami bahwa hampir setiap aktivitas kehidupan modern makin tergantung pada robot dan otomatisasi.

''Robot yang bagus memiliki banyak sensor atau sensor bervariasi, bisa beradaptasi di lingkungan berbeda dan kondisi tak terduga,'' ujar Dekan Fakultas Teknik UI Bambang Sugiarto kepada pers, Senin (9/6).

Menurut Bambang, robot memang dipergunakan untuk mengganti peran manusia di tempat-tempat yang berbahaya misalnya radiasi tinggi dan kumam tinggi. ''Misalnya robot untuk memadamkan api dan menyelamatkan bayi dari api, memerlukan presisi tinggi seperti di industri otomotif. Jadi robot umumnya digunakan untuk kerja rutin berbahaya yang memerlukan presisi tinggi,'' ungkapnya.

Namun demikian, Bambang mengakui dunia robot di Indonesia masih cukup tertinggal jika dibanding negara-negara lain di Asia. ''Memang akademisi kita untuk mengembangkan dunia robot sangat kurang atau belum cukup. Yang dimaksud akademisi di sini adalah orang-orang yang benar-benar mengembangkan ilmu ini sangat sedikit,'' jelasnya.

Menurut Bambang, akademisi yang mendalami robot dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. ''Robot ini ilmu persilangan, misalnya ilmu mesin, elektronika, komputer, MIPA jadi memang perlu perhatian khusus,'' tegasnya.

'Siluman' robot
Di sisi lain pakar robot dari ITB, Mulyo Widodo menyatakan, sebenarnya di antara orang-orang Indonesia saat ini sudah banyak 'siluman-siluman' robot. ''Robot itu anak ilmu mekatronik. Ini salah satu solusi mempermudah kehidupan, sebut saja pesawat terbang yang sekarang sudah seperti robot bisa otomatis,'' ungkapnya.

Belajar ilmu robot, kata Mulyo, sebenarnya seperti belajar memasak beberapa menu di tenpat kursus. ''Setelah lulus ia tentu ingin mencoba ilmu atau menu lain dan bukan menu yang itu-itu saja,'' jelasnya.

Mulyo mengungkapkan, sebenarnya sejak tahun 1980-an pengembangan dan penggunaan permesinan otomatis telah dilakukan terutama melalui kelompok industri strategis, seperti PT PINDAD (system, peralatan, dan lain-lain.), PT LEN Industri (IT, perangkat lunak, komputasi), PT Bharata dan PT BBI (pengecoran presisi untuk membuat bagian-bagian mesin), dan lain-lain. ''Selain itu, PT DI dan PT PAL sebagai pengguna permesinan otomatis, telah memiliki knowledge yang tinggi dalam mengoperasikan robot untuk teknik pesawat terbang dan teknik perkapalan,'' jelasnya.

Dimulai pada tahun 2001, kata Mulyo, Kementerian Ristek bekerja sama dengan Depdiknas telah mempromosikan pemenang Kontes Robot Indonesia dalam pameran Ristek tahunan yaitu RITECH EXPO (Research, Inovation, Technology Expo) di Balai Sidang Jakarta. Pameran tersebut berhasil menarik minat masyarakat untuk menyaksikannya.

''Kontes Robot Indonesia telah diselenggarakan sejak tahun 1990 oleh Depdiknas. Bahkan salah satu wakil Indonesia pada tahun 2001 yaitu tim B-Cak dari PENS-ITS telah memenangkan Juara Pertama pada Asia Pasific Broadcasting (ABU) Robocon yang diselenggarakan di Tokyo,'' tegasnya. Dirjen Dikti Depdiknas Fasli Jalal menambahkan, untuk mengembangkan robot di Indonesia saat ini diperlukan lebih banyak riset dan juga inovasi awal dari mahasiswa yang harus didukung pembimbingnya. ''Apalagi robot bisa menjadi ikon mencerdaskan, kreativitas, dan inovasi dari mahasiwa,'' ujarnya.

Pada 2008 ini, kata Fasli, Indonesia akan kembali mengikuti kontes robot internasional Asia-Pacifik Broadcasting Union (ABU) Robocon 2008 yang akan berlangsung di Pune, India pada 31 Agustus. Tim robot Indonesia akan berkompetisi dengan 20 tim robot luar negeri. Ini merupakan lomba yang keenam yang diselenggarakan di luar Jepang.

Tim yang mewakili Indonesia dipilih melalui seleksi dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) 2008 yang diselenggarakan secara bertahap dimulai dengan kontes regional di empat wilayah yakni Pekanbaru, Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. 'Pemenang dari keempat kontes regional akan diikutsertakan dalam kontes nasional KRI 2008 di Balairung UI depok, 14 hingga 15 Juni 2008.

Selain KRI, kata Fasli, diadakan pula Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) 2008. Format aturan KRCI 2008 disesuaikan dengan aturan kontes robot sejenis yang telah diselenggarakan secara teratur oleh negara maju yaitu intelligent Fire-Fighting Robot Contest di Trinity College, Hartford, Connecticut, Amerika Serikat (AS). ''Dengan demikian, pemenang KRCI berpeluang mengikuti kontes serupa pada 2009 di AS,'' jelasnya.

Seperti pada jenis kontes robot KRI, yang menarik pada jenis KRCI adalah bahwa setiap tahun selalu ada penambahan tingkat kesulitan yang bertujuan menghalangi robot untuk menyelesaikan misinya. Misalnya terdapat peralatan rumah tangga, anak tangga, benda-benda yang berserakan di lantai, dan benda-benda yang menggantungt di dinding, dan sebagainya. ''Ini semua langkah awal untuk memajukan dunia robot di Indonesia, tentu saja dengan dukungan berbagai pihak,'' tegas Fasli. eye

Tidak ada komentar: